
Seraya mengeja namanya, terbayang sebuah manifesto “Ia tahu ia akan pergi, maka ia sudah setengah pergi. Ia akan pergi ke ketiadaan. Begitu tiba, ia bahkan tidak akan dapat bermimpi untuk pulang. Ia menuju dunia yang disana bahkan tidak ada tidur” ini bukan cerita tentang ribuan rayuan atau tentang sisi melankolis seorang manusia. Ini hanya sebuah suratan yang kiranya takkan pernah sampai.
Kamu hanya Ingin berdiskusi dengan angin malam, dimana langit dan bumi menjadi satu dalam sebuah nuansa hening. Ditemani wewangian gerimis dan derap bunyi kuda liar yang menginginkan komplotannya bebas menerobos gunung, bukit dan esok menjelajah hutan karena yakin tentang apa yang sebenarnya diingini. Tapi kamu bukan kuda liar, ini hanya seperti sekelebatan perwira perang yang kehilangan taktik dan strateginya menunggangi sais kereta kuda cerita mahabrata.
Pepatah bijak, namun ganjil terdengar “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua, karena satu menggenapkan dan dua justru melenyapkan” adakah dua menjadikan sebuah asas kebimbangan. Sebelah mata mu menginginkan agar ia datang lalu pamit pulang setelah menyisipkan berita kebencian. Mungkin setelah Dia lulus dalam penelitiannya tentang mengerti makna sebuah perasaan dia akan menyampaikan sebuah wujud rekayasa perasaan dan pikiran yang berlanjut pada sebelah mata yang lain yang tersurat berkata “ mari kita putar lagi setiap detik perjuangan, kita dengar lagi nyanyian tentang kerinduan dan ketabahan hati untuk saling membangun benteng pertahanan. Hingga pada akhirnya kita menemukan arti sebuah tujuan. Yang hanya perlu satu detik dari milyaran detik untuk menemukan makna penantian.
Mungkin kita terlalu takut menggapai sebuah kejujuran. Kejujuran yang berpotensi menyudutkan sebuah keragu-raguan. Satu sisi dialah isi nya tapi kamu cemas karena mau tak mau dia akan menggulung menjadi catatan sejarah. Namun satu misteri yang terbesit adalah, apakah hari ini kamu dan dia menelusur pada jalan saling menyejarahkan. Lalu bisa kah kita mencoba memainkan jejak rekam sejarah yang mau tak mau membuat kita mengaku ada sebuah mahakarya tentang mimpi dan inspirasi. Namun apakah kita hanya seorang sais kuda yang tersesat di padang gurun, berjalan dengan kompas masing-masing tanpa usaha saling mencocokan. Sesekali boleh kita berjumpa lagi atas nama menegasikan kesia-siaan perjuangan dan mahalnya harga pengorbanan dalam ribuan mil perjalanan,
Terkadang kita buta bahkan terlalu buta untuk berani mempertaruhkan apa yang tidak kita punya demi apa yang dirasa benar. Lama bagi kamu untuk dapat sanggup menoleh ke belakang. Cinta butuh dipelihara namun kita rupa cara merawat dan merumuskan mekanisme pertahanannya. Cinta bukan hanya symbol untuk disembah bak berhala namun cinta adalah sebuah deretan nada yang harmonis menjadi nyanyian alami mengiringi langkah hidup yang berbaur bersama lambat degub jantung dan dengan lembut bersatu bersama aliran darah yang bergulir tanpa beban.
Sampailah pada titik akhir sebuah suratan , masih ada sesosok rona yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan belum selesai dan telah selesai. Dirimu yang semampai tapi keras kepala memilih untuk terus memutar ulang rekam sejarah kamu dan dia. Bartahan seadanya dan semaunya. Mungkin suatu saat nanti, apabila kesepian dan bosan kamu akan berteriak di dua sisi yang berbeda. Dan kamu akan menjemputnya dengan tenang dan sabar dan terkejut tenang mendapati ternyata kita ada di kehidupan yang lain. Atau mungkin sebuah keajaiban muncul dari ruang kosong dalam sanubari yang entah apa namanya, mampu menemukan kembali kompas agar kita dapat saling menemukan jalan pulang yang akhirnya saling mempertemukan. Atau mungin kamu boleh memilih bermimpi untuk tidur disebelahnya dan terdapat jemari yang saling melipat dan menggapai. Tidurmu miring kesebelah kanan dengan wajah saling berhadapan, ku dapati ketika kamu membuka matamu terlihat sebuah situasi rambut yang acak-acak, wajah yang bulat tercetak kusut seprai. Karena tiada tandingan nya sebuah keindahan dari sebuah gambar cinta di pagi hari yang masih apa adanya dan tanpa sebuah scenario rekayasa dengan lembut berkata dan saling menyapa. Goodmorning and I luv U’
(Di tengah gurun yang tertebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dirimu, angin malam akan menggigil melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekadar bergerak dua inci –DEE 1998)
PROGRAM 100 HARI ANTARA PRODUKTIF DAN KONTRAPRODUKTIF
100 hari sudah pemerintahan Sby-Boediono berjalan. Atau lebih tepatnya melanjutkan 5 tahun kepemimpinan Sby di era sebelumnya. Tradisi program 100 hari cukup banyak menyita perhatian publik. Masyarakat menilai program 100 hari adalah indikator awal keberhasilan pemerintahan dalam mensejahterakan rakyat. Publik juga harap-harap cemas apakah program 100 hari hanya untuk menaikan popularitas atau murni berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Besar harapan di hati masyarakat program 100 hari Sby-Boediono dapat berimbas pada naiknya tingkat kesejahteraan seluruh rakyat dan bukan hanya untuk segelintir golongan saja.
Pertanyaan yang sering mencuat kemuka khalayak adalah, akankah program 100 hari benar-benar dapat mensejahterakan rakyat lahir dan batin atau justru hanya mensejahterakan kaum elite dan pemilik modal?. Hal yang perlu kita yakini bersama adalah program 100 hari bukanlah tradisi semata, namun menjadi batu pijakan yang menentukan arah kebijakan dan tingkat kesejahteraan rakyat 5 tahun mendatang. Mengingat janji-janji pada saat kampanye SBY-Boediono harus dijalankan secara komitmen dan konsisten, dan tidak hanya untuk mengamankan perahu pemerintahan 5 tahun kedepan.
Tantangan terhadap pemerintahan SBY-Boediono bukan lah hal mudah. Carut marut kasus century, mafia hukum dan kekuasaan yang masih bersarang di tubuh pemerintahan, perilaku koruptif birokrasi, angka kemiskinan yang tinggi, pendidikan yang mahal, penggusuran pedagang kaki lima, perampasan tanah petani dan pengangguran yang semakin bertambah adalah catatan kelam pemerintahan Sby-Boediono.
Bila di tarik benang merah pada 100 hari program SBY-Boediono tentu program-program tersebut menimbulkan Tanya, apakah program 100 hari berjalan produktif jika realita dilapangan berjalan kontraproduktif. Berbagai kebijakan yang kurang populis dan dinilai kurang produktif adalah perbaikan pagar istana negara memakan APBN hingga 22,5 milyar. Pembelian mobil dinas untuk menteri dan penambahan tunjangan pejabat. Ditambah lagi dengan perdagangan bebas AC-FTA yang diperkirakan akan memukul industri lokal dan berimbas pada PHK buruh di Indonesia.
Hal ini patut menjadi sorotan publik. Masyarakat harus jeli melihat realita yang ada bahwa kebijakan SBY-Boediono sudah saatnya harus membawa perubahan kearah yang lebih baik. Tentu masyarakat tak ingin dibohongi oleh basa-basi politik yang hanya mengandalkan citra di media saja, namun langkah konkret dan nyata dalam mensejahterakan rakyat kecil harus segera dibuktikan. Pemerintahan 5 tahun kedepan wajib menciptakan iklim Indonesia yang berdikari dalam bidang ekonomi dan berdaulat dalam bidang politik untuk mewujudkan tatanan masyarakat adil, makmur, sejahtera.
Semoga arah kebijakan pemerintahan SBY-Boediono masih tetap konsisten seperti apa yang disampaikan pada waktu kampanye. Bukan janji atau buaian mimpi indah. Bukan pula jargon dan pencitraan semata namun keadilan ekonomi yang tidak menjadikan yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.
Galih Andrento
Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran
Aktivis GMNI Sumedang

Mungkinkah memang noda kemarin sore yang membuat langkah kita mundur atau kembali menuruni tangga. Walaupun itu hanya secuil kerikil hari kemarin. Sungguh Tak ada niatan membuat nona harus berpikir keras untuk ambil keputusan demikian sulit. Tapi tak apalah jika itu yang membuat nona bahagia kelak, saya juga takkan memaksakan egosentris perasaan pada nona.
Tesis dan teori bahwa jarak dan penumpukan harta rindu membuat perasaan mati suri kemudian mati sungguhan, memang belum terbukti. Tapi saya berjanji akan cari sintesa nya. Semua saya kembalikan pada nona. Nona punya hati nurani dan perasaan yang kuat sebagai seorang perempuan. Kebijaksanaan dan hikmat kiranya senantiasa melingkupi perasaan nona.
Bangga. Ijinkan saya berbangga bila dekat dengan nona. Sejuk nona. Sungguh belum pernah sesejuk demikian tempo dulu-dulu. Namun kita telah bersepakat menyerahkan pena kehidupan kita pada sang Khalik. Kita juga sepakat membukakan ruang untuk di design sesuai rencana pencipta jagad raya. Hingga kita merasa yakin tak ada yang pantas untuk di khawatirkan. Perasaan gelisah pun tak berhak bersarang di dinding dada kita.
Setidaknya aku sudah berusaha berjuang sekuat tenaga meyakinkan hati nona, tak ada niatan selain ingin nona percaya kalo saya sedang ada di lembah dan butuh bantuan seorang yang rela mengulurkan tangan, mengeluarkan saya dari jurang. Dan saya butuh nona. Segalanya tentang nona teramat penting hari ini, esok dan lusa dan hari-hari berikutnya.
Aku tak pernah seserius ini, tak lain tak bukan karena aku teramat yakin pada nona kalau nona adalah malaikat utusan TUHAN untuk datang pada hari itu. Tak ada lagi ruang dan waktu yang membatasi cinta kasih nona. Kenakanlah itu. Cinta kasih bahkan sama sekali tidak mengenal ruang dan waktu.
Biarlah doa tiap malam tentang restu ilahi terus berhembus apapun kondisi dan situasinya. Semoga komitmen dan konsistensi dalam membangun kepercayaan dapat terus kita jaga. Tenang saja aku tak akan jauh dari nona. Percayalah hanya nona saja tak ada nona yang lain.
Salam Kasih dari selatan.
Galih Andreanto for Yosephine fitrina
24/12/2009
Pacaran adalah sebuah kata yang tidak asing di benak kaum muda. Fenomena pacaran menjadi hal yang sangat menarik untuk di kaji lebih dalam. Pacaran sungguh identik dengan ‘jiwa muda’ yang bergelora dan menggebu dalam keseharian. Kehidupan manusia memang tak lepas dari cinta dan perasaan yang timbul karena kesadaran akan kebutuhan “saling mengasihi”. Harus di akui pula, pacaran menjadi sebuah anomali antara kebutuhan dan keterpaksaan arus pergaulan. Kenyataan hari ini bahwa satu sisi pacaran menjadi sebuah keharusan bagi mereka yang mencoba beradaptasi dengan zaman dan di satu sisi yang lain adalah kebutuhan dasar manusia, yaitu dapat mengasihi antar sesama manusia.
Menurut Yahya Ma’shum dan Chatarina Wahyurini, Kompas Cyber Media (11 April 2004) Pacaran merupakan; proses sayang-sayangan dua manusia lawan jenis, itu merupakan kegiatan mengenal, memahami, serta belajar membina hubungan dengan lawan jenis sebagai persiapan sebelum menikah untuk menghindari terjadinya ketidakcocokan dan permasalahan pada saat sudah menikah. Masing-masing berusaha mengenal kebiasaan, karakter atau sifat, serta reaksi-reaksi terhadap berbagai masalah maupun peristiwa.
Makna berpacaran adalah kesepakatan antara dua insan manusia untuk saling mengasihi satu sama lain dengan aturan-aturan yang harusnya di tetapkan dan tidak melanggar norma dan etika. Fenomena pacaran tentu terkait erat dengan budaya atau tradisi yang di anut. Tradisi pacaran berbudaya “sopan santun” seperti Indonesia tentu akan berbeda dengan tradisi pacaran ala Barat. Bila tidak disikapi dengan baik, proses berpacaran bisa membentuk perilaku-perilaku negatif, berbagai keputusan yang salah dan berbahaya bagi perkembangan jiwa serta masa depan. Contoh kasus dari kegiatan berpacaran yang keluar batas dan kurang beretika adalah “seks di luar nikah”. Hal ini merupakan titik ekstrim penyimpangan pacaran yang “sehat” menuju pacaran yang “tidak sehat”. Pacaran yang tidak dilandasi “kontrol diri” dan perasaan benar-benar menjaga harga diri pasangan akan membuahkan kegiatan pacaran menjadi tidak sehat dan cenderung berorientasi pada hubungan seksual saja.
Generasi muda yang mampu menyikapi kegiatan berpacarannya dengan arif tentu akan mendasari hubungannya dengan kontrol diri yang baik sesuai dengan etika dan norma yang berlaku, dengan membuang jauh-jauh hubungan seks di luar nikah. Hegemoni media dan informasi turut menyumbang prilaku hubungan pacaran yang tidak sehat. Maka dari itu perlunya informasi yang menuturkan norma dan nilai-nilai yang harus tetap dijunjung ketika remaja berpacaran. Suatu media informasi yang dapat digunakan sebagai alat sosialisasi tata cara pacaran yang sehat kepada remaja adalah sebuah solusi dari minimnya informasi tentang hubungan pacaran yang sehat.
Peran serta dari orang tua dalam mendidik anak ketika beranjak dewasa dirasa menjadi sangat penting. Hal ini dikarenakan pendidikan tentang seks dan pacaran harus di tanamkan mulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Prinsip pola hubungan saling mengasihi yang sehat, beretika dan berkebudayaan ala timur harus ditanamkan secara konsisten oleh orang tua. Kesadaran akan bahaya dari seks bebas dan resiko hamil di luar nikah harus ditumbuhkan sejak usia remaja, sebelum anak-anaknya siap di lepas bergaul dalam masyarakat, dunia kampus, bahkan dunia malam sekalipun.
Tentu dengan kesadaran tinggi bahwa kegiatan berpacaran yang tidak didasari dengan Kontrol diri akan menyebabkan hubungan saling mengasihi menjadi timpang, cenderung berorientasi seksual. Kegiatan berpacaran akan lebih indah jika kesepakatan awalnya adalah berkomitmen untuk tidak melanggar norma dan etika yang sudah ada. Karena jika hubungan berpacaran tidak disikapi secara arif dan bijaksana akan membawa konsekuensi logis yaitu hamil di luar nikah dan beresiko terkena penyakit kelamin, serta sanksi sosialnya dikucilkan dari keluarga, sahabat, dan masyarakat.
Terkait dengan hari anti korupsi sedunia yang jatuh pada tanggal 9 desember, besar harapan rakyat Indonesia menanti penegakan hukum secara konsisten di Indonesia. masalah korupsi di Indonesia bukanlah masalah baru, sejak era orde lama hingga pasca reformasi penegakan hukum di bidang korupsi seakan hanya menjadi lipsing service belaka. Masalah tersebut mengakibatkan terus meningkatnya angka kejahatan korupsi di Indonesia. Menurut hasil survey Political and Economic Risk Consultancy (PERC). Hingga hari ini prestasi Indonesia dalam hal korupsi mendapat skor 8,32 dan menduduki peringkat pertama negara terkorup di Asia. Sungguh angka yang memalukan sekaligus memilukan. Ironis, di tengah kondisi rakyat yang serba kekurangan dan kesusahan, angka korupsi atau perampokan uang rakyat justru makin hari makin meningkat. Mafia peradilan dan mafia kekuasaan semakin memperkeruh dan menodai semangat pemberantasan korupsi di Indonesia.
Kita semua harus menyadari bahwa korupsi adalah kejahatan sistemik yang dilakuakan secara sadar, dalam tindakannya telah berhitung lama dari segi benefit-cost ratio. Mereka mempunyai kemampuan relatif tinggi untuk sekadar mengetahui mana salah mana benar, mana melanggar hukum dan mana tidak. Maka dari itu kejahatan korupsi bisa dikatakan sebagai teror yang berakibat pada pemusnahan bangsa secara sistemik dan terencana.
Praktek korupsi di Indonesia dapat di sebabkan oleh beberapa hal. Pertama, pembentukan mental korupsi oleh karena kesenjangan sosial antara kaya dan miskin yang makin melebar yang menuntut individu untuk menghalalkan segala cara untuk menjadi si kaya. Kedua, korupsi adalah bagian dari kejahatan terstruktur atau dengan kata lain, sistem dalam birokrasi atau pemerintahan menuntut setiap pejabat untuk melakukan korupsi, hal ini di karenakan jaringan korupsi menyerupai aksi kejahatan bersama atau terstruktur untuk melakukan penyimpangan atau penggelapan dana atau anggaran secara bersama-sama sehingga setiap individu dipaksa untuk terlibat dan saling melindungi.
Ketiga, corruption by design capitalism artinya adalah setiap orang tertanam pola pikir konsumerisme atau manusia menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru. Hal ini mendorong manusia untuk mencari penghasilan sebanyak-banyak nya dengan menghalalkan segala cara atau dalam hal ini adalah korupsi oleh karena kebutuhan meningkatkan daya beli. Keempat, adalah degradasi rasa nasionalisme. Semangat yang mementingkan kepentingan negara di atas kepentingan individu kian lama kian padam. Perilaku cinta tanah air kian punah karena tindakan korupsi merupakan penodaan terhadap cita-cita nasional yaitu mementingkan kesejahteraan individu di bandingkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Korupsi yang merajalela di Indonesia mengakibatkan berbagai masalah. Laten korupsi mengakibatkan meningkatnya jumlah kemiskinan di Indonesia karena perampokan berbagai anggaran negara. Kemiskinan menimbulkan efek domino berupa meningkatnya jumlah angka kiriminal di masyarakat dan menurunnya kualitas hidup masyarakat di berbagai bidang yaitu penurunan kualitas kesehatan, pendidikan dan meningkatnya angka kebodohan di kalangan masyarakat. Bila Fenomena ini terus dibiarkan tumbuh subur di negara Indonesia maka dapat terjadi pemusnahan bangsa secara sistemik. Rakyat akan mengalami kemunduran peradaban atau terjadi pembodohan karena tingkat kemiskinan semakin tinggi sedangkan angka korupsi semakin meningkat.
Akibat lain yang tak kalah mengerikan adalah terjadinya chaos by nature, kerusuhan masssal akan terjadi karena rakyat tak lagi percaya pada pemerintahan yang memimpin dan menuntut kesejahteraan secara nyata. Gejolak tanpa arah akan di alami masyarakat karena korupsi telah merasuk berbagai sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentu hal seperti ini tak diinginkan setiap elemen bangsa. Maka dari itu diperlukan langkah revolusioner, berani dan konsiten dalam penegakan hukum di bidang pemberantasan korupsi.
Perlunya bengunan nation and caracter building di setiap individu dalam menggelorakan semangat cinta tanah air atau nasionalisme perlu di gelorakan kembali. Wawasan tentang roh nasionalisme dan semangat anti korupsi sangatlah di butuhkan, peran keluarga, masyarakat dan sekolah sangat di butuhkan dalam hal ini. Yang tidak kalah penting adalah penegakan hukum secara konsisten. Sinergi antar lembaga pemberantasan korupsi di mulai dari polisi, kejaksaan agung, komisi pemberantasan korupsi, anggota dewan hingga Presiden adalah fondasi awal dalam pemberantasan korupsi. Hal ini untuk menghindari mallfunction institusi yang dapat menghambat semangat pemberantasan korupsi. Yang terakhir adalah di perlukannya hukuman mati bagi setiap koruptor sebagai bukti penegakan hukum secara konsisten dan konsekuen. Bila hukuman mati sebagai shock theraphy tidak di berlakukan dengan segera maka agenda pemberantasan korupsi hanya menjadi omomg kosong tanpa aksi yang konkret.
Roh semangat perjuangan pemberantasan korupsi hingga ke akar-akarnya harus di tekadkan di setiap individu bangsa. rakyat selalu mengharapkan pemerintahan yang bersih yang berfondasi pada kepentingan bangsa dan negara bukan kepentingan pribadi semata. Mari satukan kata, satukan tekad dan langkah berantas korupsi dan dukung hukuman mati bagi koruptor.
Galih Andreanto
Aktivis GMNI kab. Sumedang
MEMUPUK KEMBALI NILAI SUBSTANSIAL SUMPAH PEMUDA
Bangsa Indonesia kembali memperingati hari sumpah pemuda 28 Oktober lalu. Namun, gaung semangat peringatan sumpah pemuda kian redup di era kekinian. Hal ini sungguh ironis, mengingat peristiwa sumpah pemuda 81 tahun yang lalu merupakan langkah awal bangkitnya persatuan dan kesatuan yang berikrar menjadi satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Sejarah mengatakan sumpah pemuda merupakan penyatuan tekad pemuda untuk terus menggelorakan semangat nasionalisme dan patriotisme demi Indonesia yang bersatu untuk keluar dari neraka penjajahan.
Berbicara mengenai pemuda tentu tak terlepas dari bingkai sejarah yang mengantarnya menuju masa kini. Berangkat dari pengalaman sejarah bukan tanpa alasan, karena setiap periode pergerakan pemuda tentu akan memiliki tantangan dan konsep yang berbeda. Dimulai dengan berdirinya organisasi kepemudaan modern pertama di zaman penjajahan tahun 1908, yaitu Budi Utomo. Berdirinya Budi Utomo merupakan tonggak awal kebangkitan nasional menuju Indonesia merdeka. Angkatan 1928 sukses dengan menyatukan pemuda-pemudi Indonesia atas nama semangat nasionalisme di atas segala golongan dan suku. Berangkat dari era tersebut pemuda-pemudi Indonesia mulai merancang dan merumuskan jalan menuju Indonesia merdeka pada tahun 1945, meskipun kala itu diwarnai perbedaan poendapat antara golongan muda dan golongan tua. Pada era 1966 dan 1998 rezim yang otoriter dan krisis yang melanda bangsa Indonesia menjadi alasan mahasiswa bersatu untuk bergerak bersama menuju perubahan Indonesia yang lebih baik.
Di era pasca reformasi atau setelah rezim soeharto turun dari tampuk kekuasaan, semangat gerakan mahasiswa mengalami banyak tantangan. Tantangan terbesar hari ini adalah hegemoni konsumerisme ala barat yang membuat pemuda-pemudi larut dalam jurang hedonisme, apatisme dan individualisme. Di tengah arus globalisasi saat ini, proses adaptasi sangat di perlukan oleh gerakan mahasiswa. Hal ini dikarenakan musuh dan konsep gerakan telah berbeda dari romantisme sejarah pergerakan mahasiswa. Tentu tantangan yang ada harus disikapi dengan cara-cara yang sesuai dengan situasi dan kondisi zaman saat ini.
Peringatan sumpah pemuda yang ke 81 membuat kita berpikir ulang atau merefleksikan kembali semangat persatuan dan kesatuan pemuda-pemudi untuk bergerak bersama membawa Indonesia keluar dari krisis dan berbagai persoalan bangsa saat ini. Bila di tarik nilai relevansi sumpah pemuda pada kondisi sekarang, tentu semangat ikrar sumpah pemuda masih memiliki relevansi yang kokoh. Kendati objek atau musuh nya berbeda pada kondisi saat ini. Musuh tak terlihat atas nama kebudayaan, penjajahan atas nama system ekonomi kapitalistik dan intervensi politik dari negara lain merupakan musuh yang lebih tangguh dan kompleks dari pada era penjajahan kolonial. Konsep penyatuan tekad persatuan dan kesatuan atas nama nasionalisme dan patriotisme kembali sangat di butuhkan pemuda-pemudi Indonesia saat ini.
Mengingat arus globalisasi yang mengancam kepribadian budaya Indonesia, dan juga beresiko hilangnya kedaulatan NKRI. Pemuda-pemudi Indonesia lah yang wajib mengontrol dan menjaga republic dari tantangan-tantanagan model baru tersebut. Maka dari itu pemuda harus bersumpah untuk bersatu padu memerangi panjajahan budaya asing yang memberangus kearifan local kebudayaan asli bangsa Indonesia. Pemuda juga harus bersumpah untuk terus menggelorakan semangat nasionalisme di atas kepentingan golongan, ras, suku, agama. Pemuda juga harus bersumpah untuk peduli terhadap nasib bangsa dan tidak terjebak zona nyaman apatisme dan hedonisme. Pemuda harus bersumpah memerangi korupsi, praghmatisme dan sifat individualis dan menggelorakan kembali semangat gotong-royong. Pemuda harus bersumpah megawal cita-cita UUD 1945.
Jangan jadikan peringatan sumpah pemuda hanya sebagai perayaan seremonial miskin substansi. Namun nilai-nilai dasar persatuan dan kesatuan herus kembali di pupuk agar semangat nasionalisme menuju pembangunan Indonesia yang lebih baik dapat dicapai.
Galih Andreanto
Aktivis GMNI komisariat Pertanian UNPAD Cab. Sumedang
Mahasiswa Fkultas Pertanian UNPAD
Hingga saat nya telah tiba kita harus mengambil posisi di sisi-sisi komitmen. Aku paham Aku paham, sekali lagi Aku juga paham. Nona tak akan pergi begitu saja. Nona juga pasti berpikir keras bilamana ku berikan kasih itu pada Nona. Nona pasti akan mengambil ancang-ancang untuk bertahan di belakang pundak ku. Dan bila Aku benar-benar pergi, Nona pasti akan menanti. Aku juga sedemikian Nona, tenang saja. Aku tAkut kelupaan paras Nona nan ayu. Aku takk ingin kehilangan sosok pedih yang Nona tawarkan pada ku. Namun Aku sedia jaga untuk Nona. Kalau-kalau Nona ketok pintu itu, dan Aku bergegas cepat membukakannya... dan kudapati sosok Nona telah sempurna untuk melihat Aku.
Malam ini Aku masih menyimpan tanya. Siapapun tak mampu menjawabnya. Ahli perang kelas machiaveli dan sun tzu pun tak kuasa menjawabnya. Namun esok, lusa atau pun satu windu lagi Nona saja yang mampu menjawabnya. Jawab semua petaka dan jawab semua relung keraguan. Karena Cuma Nona yang membuat Aku berkobar-kobar, menyala-nyala hingga sampai hari ini Aku sampai di tempat ini, ini semua perbuatan Nona. Namun apalah arti harapan dan mimpi besar tanpa kehadiran Nona. Semoga Maha Bijaksana mendengar dan mengabulkan pinta AKU dan NONA.
“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)




