Site Network: Home | Blogcrowds | Gecko and Fly | About

Episode Sebuah Nama


Seraya mengeja namanya, terbayang sebuah manifesto “Ia tahu ia akan pergi, maka ia sudah setengah pergi. Ia akan pergi ke ketiadaan. Begitu tiba, ia bahkan tidak akan dapat bermimpi untuk pulang. Ia menuju dunia yang disana bahkan tidak ada tidur” ini bukan cerita tentang ribuan rayuan atau tentang sisi melankolis seorang manusia. Ini hanya sebuah suratan yang kiranya takkan pernah sampai.

Kamu hanya Ingin berdiskusi dengan angin malam, dimana langit dan bumi menjadi satu dalam sebuah nuansa hening. Ditemani wewangian gerimis dan derap bunyi kuda liar yang menginginkan komplotannya bebas menerobos gunung, bukit dan esok menjelajah hutan karena yakin tentang apa yang sebenarnya diingini. Tapi kamu bukan kuda liar, ini hanya seperti sekelebatan perwira perang yang kehilangan taktik dan strateginya menunggangi sais kereta kuda cerita mahabrata.

Pepatah bijak, namun ganjil terdengar “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua, karena satu menggenapkan dan dua justru melenyapkan” adakah dua menjadikan sebuah asas kebimbangan. Sebelah mata mu menginginkan agar ia datang lalu pamit pulang setelah menyisipkan berita kebencian. Mungkin setelah Dia lulus dalam penelitiannya tentang mengerti makna sebuah perasaan dia akan menyampaikan sebuah wujud rekayasa perasaan dan pikiran yang berlanjut pada sebelah mata yang lain yang tersurat berkata “ mari kita putar lagi setiap detik perjuangan, kita dengar lagi nyanyian tentang kerinduan dan ketabahan hati untuk saling membangun benteng pertahanan. Hingga pada akhirnya kita menemukan arti sebuah tujuan. Yang hanya perlu satu detik dari milyaran detik untuk menemukan makna penantian.

Mungkin kita terlalu takut menggapai sebuah kejujuran. Kejujuran yang berpotensi menyudutkan sebuah keragu-raguan. Satu sisi dialah isi nya tapi kamu cemas karena mau tak mau dia akan menggulung menjadi catatan sejarah. Namun satu misteri yang terbesit adalah, apakah hari ini kamu dan dia menelusur pada jalan saling menyejarahkan. Lalu bisa kah kita mencoba memainkan jejak rekam sejarah yang mau tak mau membuat kita mengaku ada sebuah mahakarya tentang mimpi dan inspirasi. Namun apakah kita hanya seorang sais kuda yang tersesat di padang gurun, berjalan dengan kompas masing-masing tanpa usaha saling mencocokan. Sesekali boleh kita berjumpa lagi atas nama menegasikan kesia-siaan perjuangan dan mahalnya harga pengorbanan dalam ribuan mil perjalanan,

Terkadang kita buta bahkan terlalu buta untuk berani mempertaruhkan apa yang tidak kita punya demi apa yang dirasa benar. Lama bagi kamu untuk dapat sanggup menoleh ke belakang. Cinta butuh dipelihara namun kita rupa cara merawat dan merumuskan mekanisme pertahanannya. Cinta bukan hanya symbol untuk disembah bak berhala namun cinta adalah sebuah deretan nada yang harmonis menjadi nyanyian alami mengiringi langkah hidup yang berbaur bersama lambat degub jantung dan dengan lembut bersatu bersama aliran darah yang bergulir tanpa beban.

Sampailah pada titik akhir sebuah suratan , masih ada sesosok rona yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan belum selesai dan telah selesai. Dirimu yang semampai tapi keras kepala memilih untuk terus memutar ulang rekam sejarah kamu dan dia. Bartahan seadanya dan semaunya. Mungkin suatu saat nanti, apabila kesepian dan bosan kamu akan berteriak di dua sisi yang berbeda. Dan kamu akan menjemputnya dengan tenang dan sabar dan terkejut tenang mendapati ternyata kita ada di kehidupan yang lain. Atau mungkin sebuah keajaiban muncul dari ruang kosong dalam sanubari yang entah apa namanya, mampu menemukan kembali kompas agar kita dapat saling menemukan jalan pulang yang akhirnya saling mempertemukan. Atau mungin kamu boleh memilih bermimpi untuk tidur disebelahnya dan terdapat jemari yang saling melipat dan menggapai. Tidurmu miring kesebelah kanan dengan wajah saling berhadapan, ku dapati ketika kamu membuka matamu terlihat sebuah situasi rambut yang acak-acak, wajah yang bulat tercetak kusut seprai. Karena tiada tandingan nya sebuah keindahan dari sebuah gambar cinta di pagi hari yang masih apa adanya dan tanpa sebuah scenario rekayasa dengan lembut berkata dan saling menyapa. Goodmorning and I luv U’

(Di tengah gurun yang tertebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dirimu, angin malam akan menggigil melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekadar bergerak dua inci –DEE 1998)

0 komentar:

Posting Komentar