Masa itu ternyata telah benar-benar tiba Nona, Aku masih saja membayangkan gesture senyum terakhirnya di sekat-sekat jendela bis. Menuntun mengiringi kepergian ku. Ternyata Sampailah juga kita pada masa ini Nona. Aku benar-benar tak karuan untuk mengatakannya. Mengatakan Aku ikhlas melepasmu bersama yang lain. Mencoba bahagia melihat mu bahagia bersama yang lain.
Kita begitu nyaman dan terbuai pada zona kita masing-masing. Sampai suatu kali kita ingat kalau kita punya rasa yang pernah di batasi asa. Nona juga pasti ingat di saat Aku kekeh bersama Nona walau Nona mentah-mentah ingin Aku pulang. Nona juga pasti ingat saat bunga mawar + martabak yang ku berikan masih membekas di dasar syaraf tulang belakang Nona. Tapi Aku suka. Aku suka yang menggebu-gebu, Aku suka alunan simponi Nona. Nona jua yang membuat Aku gelisah sejadi-jadinya jauh di waktu malam. Aku relakan Nona bersama lelaki lain. Tak lain tak bukan karena Aku tak sayang. Aku hanya ingin Nona merasakan cinta yang lain. Pasti beda rasa, beda kadar, beda juga senyawa penyusunnya. Aku ingin Nona tersadar bahwa Akulah yang berbeda. Tak ada yang seperti Aku, mengelus-elus kepalamu tulus, dan memainkan dawai mengantarkan Nona tertidur pulas. Tapi Aku tahu Nona pasti mengingatnya
Hingga saat nya telah tiba kita harus mengambil posisi di sisi-sisi komitmen. Aku paham Aku paham, sekali lagi Aku juga paham. Nona tak akan pergi begitu saja. Nona juga pasti berpikir keras bilamana ku berikan kasih itu pada Nona. Nona pasti akan mengambil ancang-ancang untuk bertahan di belakang pundak ku. Dan bila Aku benar-benar pergi, Nona pasti akan menanti. Aku juga sedemikian Nona, tenang saja. Aku tAkut kelupaan paras Nona nan ayu. Aku takk ingin kehilangan sosok pedih yang Nona tawarkan pada ku. Namun Aku sedia jaga untuk Nona. Kalau-kalau Nona ketok pintu itu, dan Aku bergegas cepat membukakannya... dan kudapati sosok Nona telah sempurna untuk melihat Aku.
Malam ini Aku masih menyimpan tanya. Siapapun tak mampu menjawabnya. Ahli perang kelas machiaveli dan sun tzu pun tak kuasa menjawabnya. Namun esok, lusa atau pun satu windu lagi Nona saja yang mampu menjawabnya. Jawab semua petaka dan jawab semua relung keraguan. Karena Cuma Nona yang membuat Aku berkobar-kobar, menyala-nyala hingga sampai hari ini Aku sampai di tempat ini, ini semua perbuatan Nona. Namun apalah arti harapan dan mimpi besar tanpa kehadiran Nona. Semoga Maha Bijaksana mendengar dan mengabulkan pinta AKU dan NONA.
“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)
Hingga saat nya telah tiba kita harus mengambil posisi di sisi-sisi komitmen. Aku paham Aku paham, sekali lagi Aku juga paham. Nona tak akan pergi begitu saja. Nona juga pasti berpikir keras bilamana ku berikan kasih itu pada Nona. Nona pasti akan mengambil ancang-ancang untuk bertahan di belakang pundak ku. Dan bila Aku benar-benar pergi, Nona pasti akan menanti. Aku juga sedemikian Nona, tenang saja. Aku tAkut kelupaan paras Nona nan ayu. Aku takk ingin kehilangan sosok pedih yang Nona tawarkan pada ku. Namun Aku sedia jaga untuk Nona. Kalau-kalau Nona ketok pintu itu, dan Aku bergegas cepat membukakannya... dan kudapati sosok Nona telah sempurna untuk melihat Aku.
Malam ini Aku masih menyimpan tanya. Siapapun tak mampu menjawabnya. Ahli perang kelas machiaveli dan sun tzu pun tak kuasa menjawabnya. Namun esok, lusa atau pun satu windu lagi Nona saja yang mampu menjawabnya. Jawab semua petaka dan jawab semua relung keraguan. Karena Cuma Nona yang membuat Aku berkobar-kobar, menyala-nyala hingga sampai hari ini Aku sampai di tempat ini, ini semua perbuatan Nona. Namun apalah arti harapan dan mimpi besar tanpa kehadiran Nona. Semoga Maha Bijaksana mendengar dan mengabulkan pinta AKU dan NONA.
“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)
0 komentar:
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


